Kisah Cinta Indah yang Bertepuk Sebelah Tangan

09.24

Kisah Cinta Indah yang Bertepuk Sebelah Tangan


Siang tampak cerah mewarnai kota indah di pulau Sumatera ini ditambah suasana hati seorang gadis remaja berkuncir satu yang terlihat senang bergelayut manja di lengan pemuda di sampingnya dalam sebuah mobil.

Satu pemuda di dekat jendela mobil tertawa pelan. Dua diantara mereka tampak berseri-seri, namun tidak dengan pemuda yang duduk di tengah mobil sambil merengut masam.

"Rid, sekali lagi loe ketawa gue sumpel tuh mulut pakai sepatu gue." Ucap Darma melirik sinis bahkan merasa tidak ada yang lucu di sini. Farid melihat sahabatnya itu langsung nyengir sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V.

"Woi.... Koalu. Loe ngapain nemplok gue mulu? Duduk di depan supir loe donk. Di sini udah sempit, senang banget jadi ikan sarden di dempetin." Umpat kesal Darma lagi.

Koalu merupakan julukan baru bagi Indah dari pemuda itu karena kerjaannya yang selalu manja pada dirinya.

Entah Darma juga heran kenapa dia bisa berteman dengan Indah hingga hampir setahun dan sekarang mereka akan menuju rumah Indah di daerah Vila Citra.

Bukan rumah Indah sih. Rumah kakaknya Indah yang sudah menikah dan memiliki putra bernama Kenzo Valentinus berusia lima tahun.

Ayah Indah meninggal karena sakit saat gadis itu berusia sepuluh tahun. Meninggalkan seorang Istri dan dua orang putri. Indah anak kedua. Kakaknya bernama Gracia Wilda yang berjarak sepuluh tahun lebih tua dari Indah. Menikah di usia yang sangat muda yaitu dua puluh satu tahun lalu ia ikut dengan suami di Bandar Lampung.

Kemudian karena kesibukan sang mama di Jakarta. Mama Indah menitipkan Indah pada Wilda untuk bersekolah di sana. Wilda tidak keberatan karena dia juga sayang pada adiknya itu. begitupun suaminya yang tidak merasa keberatan juga. Lagipula di tengah kesibukan suami Wilda yang sering ke luar kota ada Indah yang menemani sang kakak.

Mobil sedan hitam Indah sudah mulai memasuki gapura besar perumahan berpafing putih dan ditumbuhi pohon-pohon teduh juga palma di sisi jalan. Farid mulai membuka suaranya.

"Ndah, gak apa-apa kita sering main ke rumah loe?"
"Iihhh.... Masih nanya dan malu-malu, kan udah biasa. Memang apalagi sih yang dimaluin?"

Tanya Indah yang memajukan tubuhnya menoleh pada Farid yang nyengir malu.

"Alaaaahh..... Bilang aja loe pingin ngabisin dua toples kue bintang di rumah Indah, kerempeng." Balas Darma sengit.
"Nah.... Itu loe tauuu, Darma.... Gue kerempeng makanya gue butuh asupan gizi biar punya badan bagus kayak loe." Farid ikut memeluk Darma.
"Loe gak usah jadi koalu tambahan disini. Geliiii.... Gue udah geli sama Indah jangan loe lagi."

Darma tampak kesal saat itu tapi justru hal tersebut membuat Farid dan Indah semakin sengaja bergelayut erat pada kedua lengan tegap Darma. "Setelah ini gue gantiin mang Juki aja jadi supir." Dan ucapan Darma membuat tawa mereka berdua lepas.

Akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua dengan desain minimalist berwarna abu-abu dan putih lengkap dengan halaman berumput hijau di depan teras dan samping garasi. Lalu seorang anak kecil berkaos superhero dengan jubah panjang di belakangnya keluar langsung menubruk Farid dimana mereka baru keluar dari mobil di depan garasi.

"Holeeeee ....... Ayo om Falid jadi lumpur lagi sepelti kemalen!" Teriak girang bocah lelaki yang tak lain adalah Kenzo.

Dan Farid langsung mengusap wajahnya yang lelah. Darma menepuk pundak Farid menyemangati layaknya orang yang akan maju ke medan perang.

"Semangaaattttt, broo." Ucap Darma penuh keyakinan menatap sahabatnya sedangkan Indah hanya bisa tersenyum menyaksikan Kenzo yang bersemangat menarik celana abu-abu Farid.

Juga Darma yang selalu membuat hari-harinya lebih berseri.
Indah menyuruh mereka masuk dan seperti biasa Kenzo juga akan mengusili Indah dengan mengelitiki kakinya lalu mereka berdua berlari saling mengejar. Diikuti Darma dan Farid yang mengejar mereka riang sambil saling meledek.




Malam menjelang dengan rembulan yang bersinar di balik gorden putih kamar Indah benuansa merah muda, rapi, kasur luas dengan meja belajar feminin di dekat jendela dan dinding berhias foto dirinya, keluarganya juga dua sahabatnya.

Gadis itu terbangun dari tidurnya merasa haus. Setelah membuka mata dan menenggangkan tubuh sejenak. Indah bangun tapi kembali mendesah karena dalam teko itu sudah tak berisi air putih lagi jadi dia harus berjalan keluar kamar menuruni tangga lebar menuju dapur hingga langkahnya terhenti karena menangkap sang kakak yang menangis di ruang keluarga.

Wanita itu duduk lemah dengan piyama tidur dan menggenggam erat handphonenya.

"Kamu sesibuk apa sampai gak bisa angkat telephone aku?" ucap Wilda dengan suara serak. Wajahnya terlihat sedih bercampur kesal.

Indah khawatir diiringi dengan rasa haus yang sudah hilang begitu saja melihat Wilda yang sedih. Gadis itu perlahan mendekati sang kakak setelah menaruh gelas di meja kaca lalu duduk disampingnya mengelus pundak Wilda.

"Kak, tidur yuk. Udah malam. Asal kakak tahu ya. Kurang tidur bisa mengurangi kecantikan 70% lohhh." Ucap Indah dengan senyuman semanis mungkin.

Indah tak jarang sering melihat Wilda yang menangis diam-diam di malam hari. Namun dia selalu membiarkan. Bukan tak peduli. Hanya saja untuk menangkan Wilda dulu. Setelah itu dia akan menghibur sang kakak dengan caranya sendiri.

"Kakak.... Jangan remas HP nya gituuuu. Kasihan nanti tangan kakak bengkak loh. Lebih baik kita berdoa yuk. Terus kita coba senyum pasti masalah kita akan hilang, Terus lari deh tuh masalah. Hehehe." Ucap Indah.

Wilda langsung terenyuh dan menatap Indah. Memeluk adiknya erat. "Terima kasih, dek."
"Iiihh.... Emang aku mbak-mbak warung yang habis jualan dikasih terima kasih. Hehehe."

Malam itu Indah dan Wilda mencoba larut dalam tawa untuk meredam kesedihan yang terlalu penat memenuhi kepala Wilda tentang rumah tangganya.




Indah dengan tatapan datar dan muram menyiram tanaman pagi itu di halaman rumahnya. Bunga yang indah seolah tak mampu menyapa lembut sang wanita pucat dengan rambut hitam yang masih terlihat indah menutupi sebagian wajah pucatnya.

BACA JUGA : Serpihan Hati Indah Setelah Menjadi Model

Kaos lengan panjang dan celana kain panjang menjadi pakaiannya saat ini. Lalu dari pintu utama Wilda dan Kenzo yang mengenakan seragam SMP keluar menyapa Indah.

"Indah, sayang..... Kakak kerja sebentar ya, Kenzo juga mau sekolah baik-baik dengan Bi Dwi." Ucap Wilda yang mengelus puncak kepala adiknya.

Wanita itu sudah rapi dengan blazer dan rok hitamnya. "Tante, jangan sedih... Nanti aku langsung pulang deh gak main kok." Balas Kenzo girang menatap Indah yang hanya melirik datar.

Lalu sebuah mobil vario merah tak diundang berhenti di depan halaman rumah mereka. Dan keluarlah seorang wanita cantik berbalut dress ketat dan rambut bergelombang serta make up tebal berjalan anggun menuju halaman itu.

Tak lupa tatapan aneh Wilda.

"Kenzo, masuk mobil mama."

Pemuda kecil itu tampak heran melihat raut wajah mamanya dan wanita yang baru datang itu. Lalu mengikuti kemauan Wilda masuk ke dalam mobil.

Dengan anggun wanita itu membuka kacamata hitamnya. Indah langsung membulatkan matanya, tubuhnya gemetar memegang erat teko penyiram bunga. Menatap wanita itu nyalang.

"Ada apa kamu ke sini?"

Tanya Wilda secara dingin. Indah sekarang menggelengkan kepalanya tak tenang. "Belum puas dengan semua ini? "tanya Wilda sekarang setengah membentak.

"Saya mau meminta izin pada Indah untuk menikah dengan Okta."

Ucap Wanita itu lalu menghambur bersujud di bawah kaki Indah.

"Indah, Maafin aku.... Aku hamil, ndah. Jadi... Aku mohon kamu mau relain Okta buat aku. Cinta tidak ada yang salah, Indah. Aku mohon Indah... Hiks..." Wanita itu menatap sendu Indah dari bawah.

Tapi Indah semakin bernafas tak karuan. Tubuhnya bergetar hebat. Mata indah itu melotot padanya.

"Aaaaaahhhhh!!!! Okta... Kamu... Aaaahhhhh..... Aku pembunuh.... Aku pembunuh!" Indah mulai menjauh berteriak kencang memecah kesunyian pagi.

Wilda langsung menarik tangan wanita itu kasar.

"Kamu sudah lancang Fiona. Sekarang kamu pergi! Tak usah kau menginjakkan kaki di rumah ini! Dasar jalang! Bisa-bisanya kau kemari!" Wilda juga ikut kalap.

Kenzo menangis sambil menutup telinganya dalam mobil. Bi Dwi sudah datang menenangkan Indah yang mulai mengamuk.

Bahkan Pot bunga sudah terlempar hampir mengenai Fiona.
Dan Wilda sudah menyuruh supir mengusir Fiona hingga Masuk kembali dalam mobil.
Wilda menuntun masuk bersama Bi Dwi

Lalu gadis itu sudah tenang dan diam seperti semula dalam kamarnya.
Waktu bergulir dengan cepat bagai mesin bianglala berputar.

Saat ini SMA Swasta Pahoman sedang ramai oleh para siswa yang berkerumun di depan mading sekolah.

Bahkan matahari siang yang terik tak mampu mengalahkan kegaduhan dan tawa bahagia dari para murid yang mengetahui mereka lulus dalam ujian akhir sekolah.

Ada yang melompat, berteriak, menangis haru saling berpelukan dengan para teman mereka.
Tapi tiga sekawan yaitu Indah, Darma, dan Farid masih sibuk untuk menerobos para murid yang masih mencari nama mereka di mading koridor depan sekolah.

"Ya ampuuun kita udah kayak ngantri nunggu presiden bagi-bagi uang ke kita." Ucap Farid dengan ekspresi kesusahan mencoba menerobos murid-murid di depannya begitu juga dengan Indah dan Darma. "

Ini lebih berharga dari pada uang sedekah dari presiden, dodol. Ini masa depan kita," Ucap Darma dengan kesal pada Farid setelah itu ia mencoba menegakan tubuhnya untuk melihat papan pengumuman.

BACA JUGA : Kisah Anak SMA Yang Menemukan Cinta Sejatinya

Sedangkan Indah di belakang teman-temannya langsung menyunggingkan senyum tipis lalu menepuk pundak kedua sahabatnya. Sambil melihat mereka. "Berhubungan tubuh kalian yang lebih tinggi.

Gue nunggu aja deh di bangku lapangan. Lihat punya gue juga oke. Semangaaatt. Terutama untuk Darma yang ganteng."

Indah tertawa setelah menyentuh dagu Darma dengan lembut lalu memukul pelan pipi Farid yang terbengong. Gadis itu pergi begitu saja.

"Koalu manjaaa!" Teriak Darma sebal.




Indah sedang mengayunkan kakinya di bangku lapangan di dekat koridor sekolah sambil menikmati angin siang. Tak berapa lama Darma dan Farid menghampiri Indah.

"Kita bertiga lulus semua. Kalau gak percaya nanti gue kirim foto pengumuman ke loe, ndah." Kata Farid ramah. "Makasih, Farid." Indah tersenyum sambil mengedipkan sebelah mata lentiknya pada Farid seolah memberi kode.

Darma melihat Indah bingung sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Mataku kelilipan debu." Indah pura-pura mengucek matanya.

Farid mengerti lalu memegang perutnya. "Awww.... Perut gue demo. Mau bongkar muaaattt. Permisi dulu ya semua. Gue mau ke toilet," Dengan cepat Farid mengambil langkah.

Darma melihat keanehan sahabatnya itu hanya bisa menganga aneh. "Dodol Farid bukannya tadi pagi loe udah bongkar muat. Kenapa ada ronde kedua lagi?!" teriak Darma.
Ya, sekarang hanya tinggal mereka berdua.

Indah berdiri dari bangkunya menatap punggung tegap dengan dalam seolah dari bola mata gadis itu memancarkan keteduhan. Perlahan bagai sebuah gerak lambat diiringi angin siang yang cerah. Tangan Indah sudah memegang pundak Darma. Pemuda itu menoleh.

"Darma.... Aku mau bicara.... Hmmmm.... Hmmm...." Indah tampak terbata. Dan kata "Hmmm" begitu lama bertahta di lidah gadis itu
"Hmmm .... Hmmm.... Mulu... Apa Koalu. Kosakata loe hilang?" Darma mulai penasaran. Mengusap rambut tebalnya kasar.

BACA JUGA : Kisah Anak SMA Yang Menemukan Cinta Sejatinya

"Kita... Pacaran yuk. Aku sayang sama kamu, Darma. Kamu baik, pinter, walau agak nyebelin tapi kamu gentle. Dan selama dua tahun ini aku merasa nyaman sama kamu. Kamu yang mau jadi sahabatku ketika yang lain enggan berteman dengan aku. Jadi.... Gimana kalau kita rubah status kita?

" Indah langsung menghembuskan nafas lega setelah mengutarakan perasaannya.
Tapi Darma tetap memasang wajah datar.

"Loe pake "aku-kamu" segala. Tapi... Sorry.... Gue udah punya pacar. Kita sudah jadian tujuh bulan yang lalu. LDR. Namanya Alexi," Darma menunjukkan foto gadis blasteran di handphonenya. "Dia anak teman papa gue. Sorry ...... Gue .... Musti pergi." Dengan mudah seperti angin berhembus pemuda itu pergi melewati Indah begitu saja.

Ternyata dari belakang Farid sudah berlari sambil membawa lima balon berwarna putih dan merah muda. Indah hanya bisa mematung di tempatnya sambil menahan air mata yang akan keluar meremas roknya. Bibirnya gemetar membawa perubahan pada suaranya.

"Lepasin aja balon-balon itu, Rid. Semua gak sesuai sama kenyataan yang terlalu indah untuk diwujudkan." Hati yang diremas pilu mengerahkan tangan Indah untuk memukul tangan Farid hingga balon-balon itu terbang begitu mudah membumbung ke udara.

Mengecil.... Menjauh.....Menembus awan putih.

BERSAMBUNG…..

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold silahkan gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic silahkan gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline silahkan gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought silahkan gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML silahkan gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silahkan parse dulu kodenya pada kotak parser di bawah ini.
Konversi Code
Disqus
Silahkan Berkomentar Dengan

2 komentar

Write komentar