Serpihan Hati Indah Setelah Menjadi Model
Di kamar bernuansa putih seorang wanita muda menari sendiri tanpa di iringi aliran musik yang menjadi pengiringnya.
Wajahnya tampak tersenyum sambil memejamkan mata bagaikan tidak ada beban. Masih terlalu pagi untuk menari. Mungkin dia ingin mengikuti sebuah pemotretan dengan tema menari?
Ohh.... Itu setahun yang lalu saat wanita itu menjadi foto model. Ya... Indah Safitri. Model sebuah majalah fashion ternama yang terkenal di Indonesia dan negara tetangga.
Lihat di dinding kamar itu masih banyak beberapa fotonya saat ia masih bersinar dulu.
Tapi tetap saja gadis itu menari bagaikan di sebuah pertunjukan opera terkenal. Tak dia sadari ada sepasang mata yang sedang melihat dirinya di balik pintu putih yang terbuka sedikit.
Meneteskan air mata entah sudah berapa tetes terbuang sia-sia.
Lalu seorang wanita yang lebih dewasa menutup pintu itu perlahan sambil menghapus air matanya. Sedangkan seorang anak lelaki tanggung mundur mengikuti gerak wanita dewasa itu dengan tatapan sedih.
Ketika wanita itu berbalik menghadap padanya barulah anak lelaki itu berkata.
"Ma, aku kangen sama tante Indah yang dulu." Suaranya sangat parau seperti tersayat pisau.
"Mama juga sayang... Tapi kita harus tetap menjaga tante Indah agar bisa kembali seperti dulu."
Sepasang ibu dan anak itu berpelukan dengan erat sambil menahan isak tangis yang mungkin akan pecah.
BACA JUGA : Kisah Cinta Indah yang Bertepuk Sebelah Tangan
Jika itu terjadi maka hanya menambah gaduh saja karena terdengar suara petir yang sudah menggelegar menandakan sangkakala nan jauh di atas sana akan menurunkan beribu-ribu benang peraknya.
Namun wanita di dalam kamar langsung berteriak menghentikan tariannya.
"Mamaaaaaa!" rambut tergerai yang menutupi wajah pucat cantiknya langsung terhempas karena diterpa angin kencang dari jendela yang terbuka juga ikut menerpa gaun tidur putih panjang miliknya.
"Ma, Tante.... Hiksss." ucap si anak lelaki lalu wanita itu melepaskan pelukannya menatap tegar pada putranya.
"Kenzo... Panggil Bi Dwi ya, Mama akan menemani tantemu dulu.
"Si anak lelaki mengangguk dengan cepat lalu berlari menuruni tangga lebar berkelok itu dengan cepat.
Seolah berkesinambungan hujan sudah mengguyur kota metropolitan. Langit gelap bak ditutup pekat.
Di sebuah gedung mewah menjulang tinggi seolah mengolok orang-orang di bawah sana yang berlari atau berkendara dengan cepat melawan hujan yang turun.
Seorang pria tampan bertubuh tegap memandang pemandangan para manusia, kendaraan, juga bangunan lainnya di balik mata elang itu. Datar dan muram seperti langit mendung di atas sana.
Lalu sebuah tangan kekar berjam Rolex menepuk pundak pria yang sedang berdiri di kaca itu.
"Bro, udahlah lupain Fiona.
Pengkhianat seperti itu gak pantes loe pikirin.
Merusak kinerja otak loe. Kasihan sama bisnis loe, karyawan loe, proyek loe." Ucapnya sambil duduk dengan santai di kursi seberang meja dekat jendela kaca itu lalu menuangkan wine dari botol ke gelas kristalnya.
Pria itu tetap menatap lurus pemandangan di depannya tanpa menoleh pada sahabatnya yang sekarang sedang santai.
BACA JUGA : Kisah Anak SMA Yang Menemukan Cinta Sejatinya
"Gue juga gak mau mencemarkan otak gue dengan memikirkan si jalang itu. Justru sekarang gue lagi ketawa dalam hati membayangkan si jalang itu nangis darah karena Oktaviano, Kekasih gelapnya itu kehilangan proyeknya."
Dan Pria itu tetap menatap dingin pemandangan kota di luar sana.
"Bajingan juga loe, Dharma. Dharmabrata Kencana. Salut gue sama loe. Hahaha
" Sahabatnya itu tertawa lebar sambil mengangkat gelasnya. Lalu ekspresinya berubah murung.
"Tapi kabar si Indah gimana ya?"
Dharma langsung memutar tubuhnya berjalan maskulin lalu duduk di kursi besar itu hingga berhadapan dengan Faridz sahabatnya.
"Si centil itu? Ngapain loe pikirin? Palingan juga mewek. Cewek kecanduan cowok keren kayak dia paling bisa dapat yang lebih lagi. Apa lagi dia udah jadi model tuh.
" Dharma tersenyum mengejek pada Faridz yang terlihat sudah pasrah dengan sikap sahabatnya itu. "Apa ini karma buat loe? karena dulu SMA loe suka nolak dia." Faridz menaikkan sebelah alisnya.
"Karma? Hahaha.... Kalau memang gue kena. Gue gak akan tetap duduk disini. Di kursi CEO Royal Prime.
" Dharma ikut meneguk wine itu. Faridz memutar bola matanya malas seakan sudah jera dengan sifat Dharma yang seakan sudah akut dari dulu.
Hujan di luar sana masih deras membasahi bumi mencoba menentramkan hati-hati yang terluka.
Bersambung.......